Recents in Beach

header ads

Sregep, Sebagai Kunci Menjadi Ahli di Bidangnya


Sore itu sehabis Isyaan aku pergi ke Malioboro, aku bosan berada di kontrakan terus. Setelah berjalan cukup lama sambil menikmati hiruk pikuk kehidupan Malioboro sampailah di titik 0 kilometer jogja. Ada sekumpulan anak muda sedang melukis keadaan sekitar dengan alat yang sederhana. Aku tanya “mas ini komunitas lukis ya”. “Oh bukan mas, saya sedang temu kangen bersama alumni SMK lukis saya” ujar reno. “Oh kirain ini komunitas, ini sedang ngelukis apa ya mas?”, “oh ini sedang latihan aja mas, biar terbiasa”, “ini latihannya tiap hari mas?” “nggeh mas, kalau nggak gitu nanti saya jadi lama bisanya, lagian bentar lagi uas jadi harus sering latihan juga biar cepet bisa”.

Lalu sejenak aku lihat hasil lukisannya, walau hanya garis-garis hitam tapi lukisan yang menurut ia ala kadarnya ini menurutku sudah mendekati aslinya. Kok bisa menangkap momen dan menuangkannya dalam lukisan sebegitu bagusnya ya.

Aku tersadar bahwa Sregep (rajin) bisa mengalahkan orang berbakat yang jarang latihan.

Kata Sregep inilah yang belum terinstal sepenuhnya dalam diriku, aku mudah sekali terpengaruh oleh emosi dan moodku. Kalau lagi nggak mau mengerjakan ya sudah sampai kapanpun tidak ingin mengerjakan, walau dirayu atau dipaksa sedemikian pun, moodku jelas harus diperbaiki dulu. Tapi kalau hidupku begini terus, hanya berkutat pada moodku, hmm bisa dibayangkan lambat laun aku hancur oleh diriku sendiri, tak menunggu lama beberapa minggu pun akan kelihatan hasilnya.

Sejenak aku memikirkan, sebab apa diriku bisa sregep secara terus menerus?, dan moodku bukan menjadi sebab lagi atau sebuah halangan dalam menekuni karya tulis menulis. Harapanku sederhana, aku ingin menjadi penulis seperti zaman keemasan Abbasiyah. Yang mana tercipta peradaban era baru akibat mempelajari ilmu dan mendokumentasikannya melalui tulisan.

Kenapa menulis? Karena menurutku menulis ini sederhana, tak perlu alat mahal juga bisa dilakukan dimana saja bahkan menjadi dasar dari industri apapun juga. Menulis ini basic, semua orang bisa menulis tapi tidak semua orang dapat menuangkan instuisi atau imajinasi, pengalaman, emosi, pengamatan, dan analisis mereka kedalam sebuah tulisan.

Menulis itu keren, seorang penulis sejati biasanya memiliki sifat yang andap ashor dan sederhana, kelihatan biasa saja tapi ibarat gunung es dibalik itu ia memiliki cakrawala pengetahuan yang luas.

Aku bahkan ingin menulis minimal satu buku di tahun ini, tapi bagaimanakah agar terwujud?

Kata caknun kuncinya “Sregep”. Apapun yang penting sregep, nanti kesadaran menulis akan tumbuh dengan sendirinya. Kecerdasan pun bukan hanya dimiliki oleh otak saja, tapi anggota tubuh lainnya juga. Baik kecerdasan pancaindra dalam menangkap fenomena untuk di tulis, kecerdasan intuisi dalam mencari titik yang membuat tulisan menarik, maupun kecerdasan imajinasi agar sebuah karya fiksi menjadi terangkai jelas dsb. Semua tergambar dengan jelas jika ingin menjadi ahli rajin-rajinlah berlatih, ya sregep iku mau.

Posting Komentar

0 Komentar