Recents in Beach

header ads

Bapakku Masuk Angin



Saya jadi teringat, seharian itu Bapakku mengerang kesakitan, ia merasa perut dan dadanya sakit, tubuhnya nggak enak. Akhirnya setelah diperiksa dokter ia di vonis masuk angin. Memang penyakit remeh sih, tapi masalahnya bukan remeh atau tidaknya, masalahnya angin tersebut tidak bisa keluar dari tubuhnya. 

Sudah dilakukan beberapa hal sebelum dokter memvonis demikian, yakni diperutnya di baluri minyak kayu putih, di kerok, lalu minum jamu dsb. Namun hanya sedikit saja angin yang keluar dari tubuhnya. Si angin ini benar-benar melemaskan tubuhnya, membuat kejang-kejang, nafsnya tersenggal-senggal, tidur pun tidak nyaman, makan tidak enak dan dalam sehari semalam saja rawat inap di rumah sakit sudah menghabiskan uang jutaan.

Akhirnya karena begitu mahalnya biaya diputuskanlah untuk pulang, walau pun tetangga dan kerabat dekat sangat mengkhawatirkan beliau. Ya aku kenal betul watak Bapakku, beliau sebenarnya tidak ingin merepotkan benar orang lain. Walau kerabat dekat tidak pernah mempersoalkan soal biaya, tapi beliau bertekad untuk pulang saja, nanti pikirnya di rumah pake pengobatan tradisional saja, walau sedikit angin yang keluar toh lumayan. Di rumah sakit ia mengeluhkan dikit-dikit kok kena cash, jadi bukannya mendingan, malah beliau terbebani juga oleh biaya, apalagi belum pernah mengikuti asuransi kesehatan semacam BPJS dsb.

Ke esokan hari nya ia benar-benar di bawa pulang keluarga ke rumah. Di rumah ia sedikit lega, tapi tetap masih sakit. Tak menyerah dengan pengobatan tradisional yang tadi. Salah seorang kerabat merekomendasikan untuk mencoba menggunakan metode totok syaraf, orang tetangga sebelah yang dulu ahli pencak silat katanya bisa mengobati orang dengan totok syaraf. Metode totok syaraf ini di kenal sangat menyakitkan, padahal satu-dua jari cuma menyentuh kulit saja tapi efeknya kaya kesetrum listrik. Bapakku nggak peduli yang penting sembuh. Prinsipnya usaha terus sampai sembuh, tidak merepotkan orang lain dan jaluk ngapura ing Gusti Pengeran.

Sebagai anak rantau kami benar-benar tak pernah memikirkan bagaimana kalau suatu saat akan sakit, aku juga berharap semoga Allah pengerten kepada kami ini. Ada yang mengatakan bahwasannya sakit adalah musibah, ada juga yang berpendapat ujian, cobaan dan juga rasa sayang Tuhan kepada kita, karena dengan sakit kita mulai belajar sadar apa yang sering kita lalaikan yakni nikmat sehat.

Kalau sudah sakit gini saya sendiri baru merasa, “Kenapa ya pas bugar-bugarnya pas lagi sehat wal afiat tidak melakukan ini, tidak melakukan itu ya, ehh malah lalai dengan nikmat sehat yang Engkau beri”.

Jadi, jika Anda sakit yang sebenarnya menyembuhkan dokter, tukang pijit, pengobatan tradisional ataukah Allah? Maka seharusnya manusia harus terus dekat-dekat sama yang punya urip, selamet lan sehat niki.

Nb. Karena susah cari gambar bapak-bapak jadi aku pakai eisnten yang sudah bapak-bapak untuk ilustrasinya, hapunteun :D

Posting Komentar

0 Komentar