Kemana Tujuanmu?
Aku melihat dirimu, sepertinya dalam hidup ini, tidak punya tujuan yang pasti.
Aku tidak mengerti, sebenarnya kemana tujuanmu, sampai sekarang aku memperhatikan, engkau tidak mengerti bagaimana menyelami kedalaman hatimu, juga engkau tidak paham berdialog dengan dirimu sendiri, demikian pula engkau tidak menyadari mengapa engkau berada di alam dunia ini, juga engkau tidak jelas apa yang mau engkau perbuat terhadap nikmat kehidupan ini.
Sampai saat ini tanda tanya tetap sebagai tanda tanya tanpa ada jawaban yang pasti, engkau tetap membisu tidak mau menjawab hanya pandangan matamu yang kosong menatap langit yang menabur bintang.
Aku sangat mengerti memang engkau betul-betul mencintaiku, tetapi ketika kutanya mau kemana, lalu engkau menyahut terserah Engkau saja. Untuk itu sejak sekarang engkau harus punya tujuan yang pasti.
Oleh karenanya segera terbitkan edisi pertama dari dirimu sendiri, jangan sampai diterbitkan orang lain, gambar sampulnya berupa jalan lurus yang tidak berliku.
Selanjutnya engkau melangkah meniti kehidupan ini, setiap hari dan setiap saat tanpa henti, menuju puncak gunung menjulang tinggi, dalam pikiranmu terkonsentrasi tidak boleh lengah sekecappun bahwa engkau sedang menuju puncakgunung, di sepanjang jalan mungkin engkau melihat pemandangan-pemandangan yang indah, boleh saja engkau menikmatinya, tetapi hanya sekedarnya saja jangan sampai lupa tujuan utamamu, lalu akibatnya engkau hanya buang-buang waktu.
Demikian pula ketika engkau menapaki jalan menuju puncak gunung, engkau melihat batu-batu berserakan menghambat jalan, jangan putus asa mengatasi rintangan.
Bila engkau cerdik, malah menjadi gagasan yang baik, batu-batu itu engkau buat untuk membangun tanjakan bertangga yang akan mempermudah engkau menuju puncak gunung.
Dalam menempu perjalanan tidak usah tergesah-gesah, biar lambat asal selamat, yang penting bukan kecepatan tetapi arah yang tepat supaya tidak ada penyimpangan.
Lebih dari itu wahai kekasihku jangan lengah, bahwa keinginan untuk mencapai tujuan harus di dorong dengan semangat yang besar jangan sampai muncul kecemasan yang lebih besar dari semangatmu, karena gara-gara melihat banyaknya rintangan dan hambatan di tengah jalan.
Wahai kekasihku bila engkau tidak segera melangkah sejak sekarang, setelah engkau memiliki banyak kemampuan dan keterampilan yang pernah aku ajarkan kepadamu, maka jangan berharap engkau mendapat kemajuan, andai kata dalam perjalananmu menuju puncak gunung setelah mencapai ketinggian tertentu lalu engkau diterjang angin puting beliung atau angin kencang jangan patah semangat, pesawat terbang ketika tinggal landas melawan arus angin yang berlawanan, andaikan engkau berhasil mencapai puncak gunung, aku pasti merasa bangga dengan keberhasilanmu.
Tetapi ketika engkau gagal, aku akan tetap mencintaimu, yang penting bagiku engkau mesti tidak harus hebat mencapai prestasi, yang paling penting untuk dirimu asal engkau tidak berpura-pura, tidak berselingkuh, tidak terlalu penuh basa-basi, dan tidak suka bercerita tentang kesulitan dirimu kepada siapapun, itu saja persyaratan perempuan yang menjadi kekasihku, semua itu ada pada dirimu ,lengkap sudah dan cintamu sangat menggebu-gebuh padahal pertemuan kita secara kebetulan dan tidak pernah di rencanakan, memang akhirnya ternyata cinta tidak usah dicari-cari biar saja datang secara kebetulan, akan dirasakan lebih menyenangkan bertemu cinta secara kebetulan lebih indah daripada pertemuan-pertemuan yang direncanakan, pertemuan kita sangat singkat awalnya. (Buya Syakur)
Puncaknya yakni ketika aku tak benar-benar tahu apa yang menjadi keinginanku sesungguhnya, cita-cita apa yang benar-benar aku inginkan, ku baca kembali puisi karya Buya, ku amati kembali setiap kata dan baitnya, ku perlahan-lahan cerna kembali. Ya Allah ya tuhanku ada banyak sekali kesempatan yang kulewatkan, aku tak tahu akan bagaimana lagi kedepannya, banyak sesal yang kudapat, aku tak fokus dengan tujuan hidupku, mudah terbawa angin, aku goyah,terombang-ambing dan aku sesal sekarang, mengapa tak semenjak dulu, ya semenjak dulu.
Terlalu banyak hal yang ku inginkan, dan bodohnya aku terlena dengan semua yang menghampiriku, jadi sekarang ini apa yang benar-benar aku inginkan? Ya aku ingin cepat-cepat menyelesaikan amanah kuliahku dan organisasiku, aku ingin cepat menyelesaikan ini semua, dalam waktu dekat amanah organisasiku akan selesai dan aku belum menanamkan hal baik terhadap apa yang ditinggalkan, apa semuanya berjalan begitu saja?.
Tanpa usaha, do’a dan kerja keras tentu semuanya kan terlihat biasa-biasa saja.
Mungkin kalimat Gus Dur bisa membantuku juga, “Orang yang masih terganggu dengan hinaan dan pujian manusia, dia masih hamba yang amatiran.”.

0 Komentar