Recents in Beach

header ads

Lakukan! Nikmatilah Hal yang Dilakukan

Aku terkesan, senyum-senyum sendiri ditampar beragam kalimat Om Bob Sadino, manusia gilak yang menantang mainstream zaman, tentu hal itu tidaklah mudah dilakukan. Apalagi bagi seorang mahasiswa sepertiku. Rasanya aneh dan tentu melawan teori yang pernah diajarkan disekolah. Memang, tidak semuanya sih tapi menjadi anak sekolahan tentu berimbas kepada pola pikirku selama ini dalam menghadapi segala sesuatunya.

Aku heran, mengapa diriku lebih sering merasa was-was, lebih sering merasa khawatir dan lebih sering ketakutan dalam menghadapi sesuatu. Padahal, semua yang kuhadapi belum benar-benar terjadi. Yang diajarkan Om Bob Sadino sangat sederhana dalam menghadapi pertarungan hidup ini. "Lakukan, lakukan saja lalu nikmati hal yang dilakukan itu". Kata-kata sederhana itu lebih mengena dan lebih dalam maknanya ketimbang teori yang kudapat seperti halnya kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas atau kerja, kerja, kerja. Yang malah ketika melakukan membuat tekanan mental dari dalam diri


Aku mendapatkan pinjaman buku ini dari sahabatku, kawan SMAku dulu; rian. Ketika malam-malam di antara suara sorak kehangatan keluarga dan gema takbiran malam terakhir ramadhan. Tak ada rencana apapun, atau tujuan apapun ketika ngobrol saat itu. Hanya kejujuran dan keterbukaan saja yang terungkap, sambil ditemani nyamuk-nyamuk yang hilir mudik menggigitku. Aku curahkan sedikit permasalahan hidupku malam itu.

Bagi orang sejenisku, rasanya terlalu kikuk dalam hal pergaulan, kadang juga terlalu takut dalam setiap obrolan. Apalagi dengan orang yang tidak sejalan dengan watakku. Aku juga sering menyalahkan diri sendiri dalam hal pergaulan ini. Terlebih lagi aku yang belajar yang Alhamdulillah hingga kejenjang yang tinggi ini merasa masih dicap bodoh karena pergaulanku yang kikuk dan rasa bersalahku akan kurang baiknya pergaulan terhadap lingkungan sekitarku membuat aku memiliki mental inlander.

Ya aku ini takut, aku selalu membayangkan hal-hal yang sebenarnya belum terjadi. Aku lihai dalam mengkonsep atau menghasilkan ide mengenai apapun. Tapi setelah ngobrol disini lebih terbuka lagi mengenai diriku bahwa aku terlalu banyak hal yang dibayangkan, aku terlalu khawatir.
Begitulah keadaanku yang memang bisa dibilang sebagai seorang introvert, pikiranku lebih aktif ketimbang ragaku. 

Lalu lakukanlah, nikmatilah yang dilakukan itu. Bisa dibilang masalahku kurang ikhlas dan kurang bersyukur dengan apa yang kudapatkan dan yang kulakukan. Aku masih sering membanding-bandingkan diriku dengan orang lain. Dan taraa hasilnya mentalku menjadi inlander, merasa bahwa yang kulakukan tidaklah berharga ketimbang orang lain. Dan aku pernah mempermasalahkan ini kepada Tuhanku. Mengapa aku diberi kekurangan dibidang yang sangat krusial ini ya Allah.

Dalam jejak-jejak hidupku hingga saat ini mencoba untuk menutupi kekurangan tersebut aku mencoba kuliah di program studi ilmu komunikasi. Tapi dalam tiga tahun ini kurasa perkembanganku dalam hal berkomunikasi dengan orang lain tidak begitu signifikat dan aku kikuk dalam pergaulan. Aku telusuri kepribadianku ini, ternyata bukan cuma aku. Dalam populasi dunia kepribadian introvert bisa dikatakan hanya 30-40% saja selebihnya adalah kepribadian ekstrovert.

Yang jelas makhluk bernama introvert ini adalah makhluk-makhluk langkah dan istimewa. Bill gates, warren buffet, thomas alfa edison, einsten, tesla dan orang-orang yang sangat berpengaruh dan mengubah peradaban itu adalah benar kebanyakan makhluk introvert. Intinya kamu spesial, jangan sia-siakan rahmat yang diberikan Tuhan. Masalahnya tinggal bagaimana kita siasati kelemahan kita dan kembangkan apa yang menjadi kelebihan kita.

"Satu langkah kecil lebih berharga ketimbang seribu macam rencana dan berkaryalah, karena dengan berkarya dapat menutupi kekurangan kekuranganku".

Posting Komentar

0 Komentar