Lah kok hidup kok ngeluh? Ngegrundel terus atine, Lapo sih hidup kok ora di syukuri wae? Kalo saja lebih tahu dan mengenal diriku sejak awal mungkin dalam keseharianku, aku akan lebih sering sumringah. Orang yang sudah mengenal atau yang baru mengenalku selalu mendapatiku dengan raut wajah datar tanpa ekspresi atau terlihat terbebani, galau yang di tutup-tutupi.
Jelasnya sedari dulu saya bingung dengan diriku, saya ini apa dan di ciptakan untuk apa. Gusti Allah ngonsepaken kula soke jadi apa ya. Kula niki manuk tah, ayam tah, harimaukah atau angsakah atau apalah itu?.
Mengenai ‘mengenal diri’ menurutku sangat penting, mumpung belum di dera himpitan ekonomi yang luarbiasa, selain itu masih umur 20an. Saya sungguhi proses ini untuk benar-benar mengenali diri sendiri.
Puncaknya yakni saat saya mengikuti tes potensi sidik jari yang di adakan oleh lembaga swasta. Walau itu mahal menurutku ini sangat penting, mengingat bahwa masa depan itu penting, perlu di persiapkan dan tidak hidup di luar dari apa yang di konsepkan Allah.
Menurut guruku, Allah tentu mempunyai rencana, konsepan untuk setiap manusia, bahwa manusia yang terlahir di dunia ini adalah spesial serta unik ya mosok sing kudune jadi kie malah jadi kue. Akhirnya sepanjang perjalanan hidup di terimanya menjadi sebuah keluhan terus.
Mengapa aku serius soal ini? Karena hidup harus di syukuri, rumusnya hidup itu jelas, “Siapa yang bersyukur maka akan kutambah nikmatku kepadamu”. Maka mengenali diri sendiri ini merupakan caraku untuk terus menerus bersyukur. Kan kalau bersyukur akan di tambah nikmatnya, berartikan bati’ untuk kita iya kan?
Jadi tips hidup agar beruntung ialah bersyukur terus, menurut guruku juga kaya miskin sudah bukan urusan lagi, kalau hidup selalu di selimuti rasa syukur maka otomatis bati’. Nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?


0 Komentar