Walau seyoyanya era 4.0 kita telah memasukinya, namun kita masih bermasalah dan masih ruwet di era digital ini atau era 3.0. Keruwetan-keruwetan itu muncul karena masih banyak hal yang harus di evaluasi, terutama evaluasi akan manusianya sendiri sebagai makhluk yg memiliki akal serta filter diri.
Zaman semakin maju namun manusia apakah akan ikut maju atau mengalami kemundurun?
Banyak kalangan terutama penggiat media yg masih memiliki idealisme tinggi mengatakan bahwa masih banyak di Indonesia ini yang mudah sekali terbawa arus informasi utama. Apalagi akhir-akhir ini mulai terjadi panasnya kampanye di media media sosial dan online. Bagiku ini suatu keadaan yg baru di alami Indonesia, bagiku ini tak masalah untuk membuka berbagai sudut pandang. Namun yg paling ku khawatirkan ialah orang awam mungkin takkan menyadarinya, bahwa berita berita yg ada dimedia merupakan agenda setting. Apalagi yg menyetting ini ialah kaum konglomerat yg mementingkan keuntungan semata, daripada mementingkan kepentingan publik.
Sebagai manusia tentu ingin mempelajari sesuatu yg penting, dahulu saja sebelum orang mengenal apa itu sekolah, ia dengan semangat dan tekadnya mencari informasi dan berguru langsung kepada orang yg di anggap memiliki pengetahuan dan ilmu yg mumpuni, merantau kesana kemari selain mencari penghidupan banyak juga yg hanya mencari ilmu. Tapi dijaman sekarang pengetahuan dengan mudahnya di dapat, dimanapun dan kapanpun juga. Bahkan di smartphone sendiri. Secara logika seharus kita lebih berpengetahuan dan berilmu daripada orang-orang dulu. Tapi nyatanya kita malah kebanjiran informasi dan kita sendiri belum siap untuk menghadapi itu. Seperti teori banjir, sebenarnya alam itu berjalan dengan mengikuti aturannya. Toh jangan kita menyalahkan hujan. Bukankah dari dulu juga seperti itu?, hanya sajakan kita yg mengelola tempat, tidak benar benar siap untuk menyambut hujan, padahal hujankan cuma kehendak alam.
Seperti sekarang ini banyak hujan informasi, sedari dulu kita telah memprediksi hal ini akan terjadi, namun ketika terjadi kita belum benar-benar siap menghadapinya. Akhirnya pekerjaan jadi bertambah yang dulu cuma dagang bakso, menjaga restoran atau pegawai negeri jadi harus ikut ikutan demo. Toh kita ini jangan sampai di jadikan boneka oleh para pemilik media, kita juga memiliki otoritas untuk menyikapi atau bertindak, toh isi media berita hari ini (media online), seperti yg dilihat isinya tidak seinformatif dan sekredibel dahulu (media cetak), hanya bisnis dan mencari keuntungan belaka.
Namun jangan sangkah dulu tentang media hari ini. Toh semua tergantung dari diri kita. maka dari itu kita harus membekali diri, mempersiapkan filter diri, untuk siap kehujanan informasi.
Namun jangan sangkah dulu tentang media hari ini. Toh semua tergantung dari diri kita. maka dari itu kita harus membekali diri, mempersiapkan filter diri, untuk siap kehujanan informasi.
Kalau menurut mas sabrang, informasi hari ini ibarat sebuah prasmanan, semua siap sedia. Hanya bagaimana kita bersikap, apakah akan bersikap seperti anak kecil atau orang dewasa. Anak kecil akan mengambil semua makanan yg ia inginkan tapi orangtua akan bijak memilih yg membuat dirinya sehat dan tidak menambah penyakit. Maka bijaklah dalam bermedia dan mencari informasi.

0 Komentar