Recents in Beach

header ads

Sang Pemuncak Ilmu

“Hai nak, maukah kamu mendengar beberapa kalimat yang sangat berguna?” tanya Rasulullah pada seorang pemuda cilik.

“Kenalillah Allah dalam sukamu, maka Allah akan mengenalimu dalam duka. Bila engkau meminta, mintalah pada-Nya. Jika engkau butuh pertolongan, mohonlah pada-Nya. Pena sudah diangkat, lembaran-lembaran telah kering. Semua kembali kepada keputusan-Nya”.

Pemuda cilik itu termangu didepan Rasulullah. Ia memusatkan konsentrasi pada setiap patah kata yg keluar dari bibir manusia paling mulia itu.
Siapa sosok pemuda cilik itu? Pemuda yg beruntung mendapatkan pengajaran langsung dari nabi Saw?

Yaa beliau adalah Abdullah bin Abbas sahabat mulia yang mendapat gelar sang pemuncak ilmu, ahli diatas ahli ilmu, saat dewasa kelak.

Abdullah bin Abbas lahir tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah. Saat Rasulullah wafat, ia masih sangat belia, 13 tahun umurnya. Semasa hidupnya Rasulullah benar-benar akrab dengan mereka yang hampir seusia dengan abdullah bin abbas. Ada Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah dan sahabat-sahabat kecil lainnya.

Kerap kali Rasulullah meluangkan waktu dan bercanda bersama mereka. Tapi tak jarang pula Rasulullah menasehati mereka. Saat Rasulullah wafat, Ibnu Abbas benar-benar merasa kehilangan. Sosok yang sejak mula menjadi panutannya, kini telah tiada. Tapi keadaan seperti itu tak berlama-lama mengharu biru perasaannya. Ibnu Abbas segera bangkit dari kesedihannya, iman tak boleh dibiarkan terus menjadi layu. Meski Rasulullah telah berpulang, semangat jihad tak boleh berkurang. Maka Ibnu Abbas pun mulai melakukan perburuan ilmu.

Didatanginya sahabat-sahabat senior, ia bertanya tentang apa saja yang mesti ditimbahnya. Tak hanya itu, ia juga mengajak sahabat-sahabat lain yang seusianya untuk belajar pula. Tapi sayang, tak banyak yang mengikuti jejak Ibnu Abbas. Sahabat-sahabat ibnu Abbas merasa tak yakin, apakah sahabat-sahabat senior mau memperhatikan mereka yang masih anak-anak ini. Meski demikian, hal ini tak membuat Ibnu Abbas patah semangat. Apa saja yang menurutnya belum dipahami, ia tanyakan pada sahabat-sahabat yang lebih tahu.

Ia ketuk satu pintu dan berpindah kesatu pintu rumah sahabat-sahabat Rasulullah. Tak jarang ia harus tidur di depan pintu para sahabat, karena mereka sedang istirahat di dalam rumahnya. Tapi betapa terkejutnya mereka tatkala menemui Ibnu Abbas sedang tidur di depan pintu rumahnya.

“Wahai keponakan Rasulullah, kenapa tak kami saja yang menemui Anda,” kata para sahabat yang menemukan Ibnu Abbas sedang tidur didepan pintu rumahnya beralaskan selembar baju yang ia bawa.

“Tidak, akulah yang mesti mendatangi Anda,” kata Ibnu Abbas tegas.

Demikianlah kehidupan Ibnu Abbas, sampai kelak ia benar-benar menjadi seorang pemuda dengan ilmu dan pengetahuan yang tinggi. Saking tingginya dan tak berimbang dengan usianya, ada orang yang bertanya tentangnya.

“Bagaimana Anda mendapatkan ilmu ini, wahai Ibnu Abbas?”
“Dengan lidah yang gemar bertanya, dan dengan akal yang suka berpikir,” demikian jawabnya.




Tulisan ini telah terbit di Official Account KARISMA ITB


Dan juga tulisan ini memenangkan sayembara pena agama MIJ (Muslim ITB Jatinangor) September 2017 kemarin.

Posting Komentar

0 Komentar